Cross Lighting Outdoor – Strobist

Kali ini saya akan coba sharing sebuah pemotretan yang saya lakukan outdoor, dan yang membuat foto ini jadi “menantang” adalah, waktu yang tersedia hanya dari jam 11 siang hingga jam 2 siang. Ini adalah “waktu terburuk” jika kita akan melakuakan pemotretan jika hanya dengan mengandalkan available light dari cahaya matahari saja.

Lokasi yang dipilih adalah disebuah lapangan olah raga, tennis dan futsal yang disekelilingnya terdapat banyak pepohonan yang teduh sehingga banyak area yang teduh dibawah bayangan pohon, namun dibagian bayangan pohon ini juga besar terjadi adanya “cahaya bocor” matahari yang cukup keras dari sela sela dedaunan yang bisa mengakibatkan “bopeng” cahaya yang sangat mengganggu, terutama jika jatuhnya di bagian wajah model.

Untuk mengatasi hal ini, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan acara menggunakan artificial light – dalam hal ini saya akan gunakan lighting strobist dengan teknik cross light.

Teknik ini merupakan salah satu teknik dasar Strobist dan juga sangat simple, cukup dengan dua flash saja dan dengan penempatan posisi yang tepat, akan menghasilkan pencahayaan yang sangat bagus. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat Lighting Diagram yang saya gunakan seperti dibawah ini :

www.http://www.lightingdiagrams.com

Semua flash yang saya gunakan adalah naked, dalam artian tanpa menggunakan softbox, payung atau aksesoris lainnya. Saya mencoba memaksimalkan pengaturan cahaya dengan cara mengatur dimasing masing flashnya.

Untuk lebih detailnya mari kita bahas detail satu persatu, kita mulai dari Flash :

Flash 1, posisi kiri depan dari model. Flash ini bertujuan sebagai main lighting, yang juga berfungsi untuk menetralisir cahaya matahari yang “bocor” dari sela sela dedaunan. Zoom Flashnya saya set agak lebar sekitar 35mm, agar bukaan arah cahayanya  lebih lebar dan besar, mulai dari area wajah hingga badan. Power nya 1/8 dengan jarak antara Flash ke Model sekitar 3 meter.  Dengan posisi ini saya harapkan cahaya dapat sampai dengan merata kebagian wajah dan tubuh model, dengan tidak terlalu keras, namun dapat menutupi cahaya matahari yang jatuh dari sela dedaunan.

Flash 2, posisi kanan belakang dari model. Flash ini bertujuan sebagai rim light. Rim light ini berfungsi untuk membuat foto menjadi lebih berdimensi dan lebih menarik. Arah cahaya langsung ditujukan pada bagian kana belakang model, Powernya sama 1/8 namun jarak Flash ke Model lebih dekat, hanya sekitar 1 meter dengan zoom 85 mm. Perlu diperhatikan sekali agar jangan sampai cahaya Flash ini bocor ke lensa, arahnya harus lebih menyamping dan pastikan lensa memakai hood / tudung lensa.

Kamera, untuk pemotratan ini saya menggunakan Nikon D7000 dengan lensa AFS 17-55 F/2,8. ISO 100, Focal Length 38 mm dengan diafragma F/5,0 dan Speed 1/160 sec.

Hasil tampilan di Lightroom adalah sebagai berikut :

Hasil ini adalah setelah saya gunakan preset di Lightroom, untuk melihat hasil aslinya bisa dilihat pada foto dibawah ini, dengan pilihan foto portrait – untuk lebih memudahkan melihat hasil “before – after” di Lightroom.

Dari foto diatas dapat dilihat hasil dari Cross Lighting ini dimana bagian wajah dan tubuh model terlihat pop-up dan detail tanpa ada “bocoran” cahaya matahari,  bagian “bocor” cahaya matahari ini dapat dilihat pada lantai di background. Dan detail pada rambut baik bagian depan dan belakang samping juga terlihat bagus dengan rim light pada kanan model.

Setelah melewati proses post-processing di Photoshop, dapat kita lihat 2 pilihan foto dari sesi ini seperti berikut :

Untuk hasil lengkapnya dari pemotretan ini dapat dilihat pada project Make Up by Halla.

Selamat mencoba teknik Cross Lighting ini untuk pemotretan outdoor, smog bermanfaat.

Salam,

Purnawan Hadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *